Skip to main content

Kisah Nyata Seorang Anak Laki-Laki yang Mempertahankan Keislamannya (Part 2-End)

Belum baca Part 1? Klik disini.
Huda tetap menyayangi dan menghormati ibunya, meskipun ia pergi dari rumah karena menolak ajakan ibunya untuk masuk Kristen. Hal ini terbukti karena ternyata kepergian Huda dari tempat biasanya ia berada disebabkan karena

Huda pulang ke rumahnya untuk meminta ijin kepada ibunya agar bisa melanjutkan sekolah di Banda Aceh. Alhamdulillah Huda telah mendapat bantuan dari muhsinin dan juga yayasan untuk bisa melanjutkan sekolahnya di salah satu pondok pesantren di Banda Aceh.
Tidak ada ibu yang tidak sayang kepada anaknya. Begitu pula ibunda Huda. Pada awalnya ibu Huda tidak menyetujui keinginan Huda tersebut, karena Huda akan masuk ke pondok pesantren dan juga karena jarak antara kabupaten ini dengan Banda Aceh sangat jauh, yaitu sekitar 20 jam perjalanan dengan jalur darat, sehingga akan sulit bagi mereka untuk saling bertemu mengingat jauhnya jarak tempuh dan besarnya biaya transportasi yang dibutuhkan.
Setelah melalui perundingan yang cukup alot antara pihak keluarga Huda dengan masyarakat setempat dan pihak-pihak yang berniat untuk membantu Huda, akhirnya ibu Huda luluh. Meskipun berat untuk melepaskan kepergian Huda, namun akhirnya ia merelakannya, untuk masa depan Huda yang lebih baik.
Ya, masa depan yang lebih baik, karena selain perbedaan akidah (Huda memang memeluk Islam atas keinginannya sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun), dengan Huda bersekolah di Pondok Pesantren di Banda Aceh, kebutuhan Huda akan lebih terjamin, baik dari segi kebutuhan pokok maupun pendidikan. Karena memang Huda bukanlah berasal dari keluarga yang berada. Rumah Huda sangatlah sederhana. Dinding rumahnya terbuat dari kayu yang disusun renggang (sehingga banyak celah yang cukup lebar pada dinding rumahnya), atap dari seng, dan dapur yang sangat sederhana dengan lantai beralaskan tanah. Kiranya cukup tergambar bagaimana kondisi kehidupan keluarga Huda.
Alhamdulillah telah terkumpul bantuan untuk Huda sebesar Rp 1.750.000,- dari warga sekitar dan juga para muhsinin. Sebesar Rp 250.000,- diberikan kepada keluarga Huda untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dan juga sebagai pelipur lara atas kepergian Huda. Sedangkan sisanya diberikan kepada Huda, untuk membeli beberapa kebutuhan pokok Huda dan juga biaya transportasi Huda menuju Banda Aceh.
Dua hari yang lalu Huda berangkat menuju Banda Aceh dengan ditemani oleh salah seorang muhsinin. Dan hari ini Huda telah masuk sekolah dengan teman dan tempat belajar yang baru.
Alhamdulillah, kini senyuman Huda telah kembali merekah setelah selama 3 bulan ia merasakan pahit dan kerasnya kehidupan di usianya yang masih belia. Alhamdulillah, kesabarannya berbuah manis.
Semoga Huda bisa menjadi anak yang shaleh dan cerdas. Dan semoga kelak ia bisa menjadi da’i dengan pemahaman yang lurus yang bermanfaat bagi umat, terlebih bagi keluarganya sendiri. Semoga keimanannya akan selalu kokoh dan semoga Huda bisa mengajak ibunda serta adiknya yang masih kecil untuk kembali memeluk Islam.
Keteguhan Huda menahan pahitnya kehidupan menjadi pengingat bagi saya untuk senantiasa bersabar atas segala cobaan yang Allah berikan. Benarlah, jika didalam kesulitan itu pasti ada kemudahan, sebagaimana yang Allah firmankan:
Fainna ma’al ‘usri yusran. Inna ma’al ‘usri yusran
(Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan)
Hal ini juga mengingatkan saya atas perkataan seseorang, bahwa kesulitan itu bagaikan pekatnya kegelapan malam. Semakin malam maka akan semakin gelap dan pekat. Namun ingatlah bahwa malam akan berganti menjadi siang, setelah malam yang pekat akan ada fajar yang menyongsong. Akan ada cahaya yang mengiringi pekatnya malam. Dan dibalik setiap kesulitan, yakinlah bahwa akan ada kemudahan yang mengiringinya.
Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita akidah yang benar, kesabaran yang luas, dan keimanan yang kokoh yang tidak akan terguncang sedikitpun meskipun diterpa oleh deraian hujan maupun badai.
Semoga kita bisa memegang teguh Islam dengan pemahaman yang benar dan semoga kita bisa senantiasa beramal hingga datangnya al-maut, hingga akhirnya Surga menjadi persinggahan terakhir kita bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Aamiin yaa Rabb..
Selesai ditulis di Kutacane, 3 Oktober 2016, 9.49 am.

Popular posts from this blog

Penyakit Ini Bernama Anyang-anyangan

Halo semuanya, apa kabar? Semoga dalam kondisi sehat selalu ya..
Anyway, pernah nggak sih teman-teman berkali-kali merasa ingin buang air kecil, tetapi yang keluar hanya sedikit dan juga disertai nyeri yang membuat sangat tidak nyaman? Saya pernah merasakannya, kalau tidak salah ingat, saat itu saya masih duduk di kelas 1 SMP. Bingung mengatasi nyeri dan sensasi ingin buang air kecil yang berulang kali ini, akhirnya saya tanya ke Ibu saya, dan ternyata kata beliau saya terkena penyakit anyang-anyangan. Kebetulan ibu saya memiliki sebuah buku yang berisi resep-resep pengobatan tradisional. Akhirnya saat itu saya membaca buku tersebut dan mencoba resep yang ada. Saya tidak ingat apakah saat itu langsung sembuh atau tidak. Tapi yang jelas saya merasa kapok menderita sakit anyang-anyangan.

My Trip, My .... ?

Ceritanya, akhir  tahun ini kami bertiga ke Medan karena ada beberapa hal yang memang harus diselesaikan di Medan sebelum 1 Januari 2017.